Fakta: Pengakuan Memilukan Pelajar di Kampung Inggris

Mencoba kembali memainkan atau mengkoneksikan antara otak, fikiran, hati dan perasaan lewat pengalaman dalam awal jejak kaki di tempat yang tanda tanya ini (KAMPUNG INGGRIS), semakin melangkahkan kaki maka kaki ini tak mau berhenti dan terasa tak tenang jika berhenti sejenak dalam diam. Setiap langkah di kampung ini mengandung arti yang sering menggambarkan makna filosofis. terkadang tempat ini menembus ruang-ruang rinduku pada kampung halaman yang sudah lama ditinggal pergi, kampung yang menjadikanku sosok petualang, kampung yang mengajarkanku bagaimana hidup dalam sosial dan kampung yang masih memegang teguh sifat gotong royong antar umat manusia.

Itu hanya sekilas gambaran singkat luapan yang tertuang dalam ingatan. Mengapa saya berada di sini dan tetap bertahan di Kampug Inggris? tercoret-coret dalam lembaran putih ini yang mengandung makna dari sejarah perjalanan jejak langkah yang ku jalani sampai menulis sebuah realitas hidup dalam eksistensi untuk mendapatkan esensi dibalik kampung inggris. Karena ku percaya kebingungan akan mengantarkan ketitik cahaya yang paling terang.

memulai menulis jejak langkah kujalani selama berada di kampung penuh ilmu ini, menembus batas-batas kebiasaan yang akan kujadikan setiap langkah itu adalah pengetahuan sampai akhirnya tiba berhenti untuk menulis ketika kebodohanku datang tanpa undangan karena kebodohan itu ketika kita sudah tak tahu yang namanya bernafas. Artinya arti hidup mestilah berilmu minimal mengetahui yang namanya cara bernafas dan selebihnya jadikan nafasmu untuk jembatan menuju dan meyambut ilmu-ilmu yang belum sempat dimiliki.

Hadirnya aku dikampung ini bukan atas kemauan dari hati, bukan pula perencanaan awal yang saya sudah rencanakan sebelumnya sewaktu masih ada di Tanah Daeng, dan seakan fungsi alam telah memainkan perannya membawaku ketempat ini yang sebelumnya belum ada dalam kamus hidupku akan tiba disini untuk memecahkan teka teki kehidupan sendiri, aku sangat berterima kasih pada Tuhan telah menciptakan angin yang mengirimkan pesan dan mengantarku ketempat ini. Iya, anginlah sebab musabab aku hadir disini karena sebelumnya hanya arah anginlah yang menunjukkan jalanku nantinya karena tujuan atau cita-cita itu seperti angin yang tidak terlihat tapi bisa dirasakan dan dimanapun berada itu akan menjadi motifasi dalam hidupku.

Setibanya aku di kampung inggris ini, dengan jemputan oleh kawan lama dan dibawanya aku menuju tempat peristirahatan dan tempat para pencari ilmu berada, tepatnya salah satu Camp yang terkenal dikampung inggris orang-orang menamainya Camp Asset yang berdiri pada Tahun 2001 itu terbagi menjadi 5 Camp tapi saya ditempatkan disalah satu Camp yang namanya LAGALIGO, Camp Asset yang pertama lahir dan memulai sejarah sampai sekarang itulah Camp yang saya tempat saat ini.

pertemuan awal dengan sebagian orang asing yang belum pernah ku temui sebelumnya itu menjadi hal biasa bagiku karena dalam benakku semakin banyak orang baru yang kita kenal maka pengalaman hidup itu semakin bertambah, karena pertemuan pertama atau pertemuan awal itu sangat berkesan meskipun kita hanya saling bertatap muka dan saling tukar senyuman itu sudah menjadi hal yang sangat berkesan, seiring berjalannya waktu, kemudian kumencoba membuka komunikasi awal untuk memulai percakapan agar bisa saling mengenal antara mereka dan aku.

Merasa mereka tak memandang perbedaan atau anti class dan sifat sosialnya besar karena mungkin kami bersama merasa para perantau yang memiliki nenek moyang yang sama asalnya dari sulawesi dan masih memegang teguh yang namanya sifat sipakatau’, sipakalebbi’,sipakainge’ itu yang menjadi ikatan persaudaraan erat yang ada dalam budaya sulawesi.

Aku tahu masing-masing orang beda kepala beda isinya sudah tentu karakternya berbeda tapi mencoba untuk beradaptasi atau menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru seperti ini. Sembari mengakrabkan diri kepada kawan baru di Camp itu untuk mensingkronkan maksud aku berada disini karena saya berfikir tempat paling tepat untuk menemukan tanda tanya dalam bentuk jawaban fikiran yang berada dalam kebingungan itu ialah lawan bicara.

Dan yang sebenarnya maksud menginjakkan kaki awalnya ditanah jawa ini ialah ingin menikmati keindahan alam di puncak gunung-gunung yang berada dijawa tapi apalah daya manusia hanya mampu berencana Tuhan yang menetukan jalan kita dan akhirnya saya dipertemukan kondisi atau suasana yang sama sekali tidak masuk dalam rasionalisasi saya untuk mempelajari bahasa asing yang seakan memperkosa atau menzalimi bahasa kita sebagai warga indonesia, dalam kondisi saat itu saya berada dalam pemikiran yang kontradiksi atau haruskah aku menggadaikan idealisme yang sudah lama kutata rapi kalau mempelajari bahasa asing itu sama halnya menjajah negri sendiri, ternyata seiring waktu berjalan dengan banyaknya teman untuk berbagi atau meminta pendapat itu kemudian aku mencoba menyimpan prinsipku terkait bahasa, untuk kugunakan di waktu yang akan datang yang sebenarnya idealisme itu bukan hanya persoalan bahasa akan tetapi bagaimana membentengi diri dari penjajah yang menggunakan cara-cara halus.

pada akhirnya aku membuka lembaran baru atau memulai sejarah baru untuk mempelajari bahasa asing itu meskipun awalnya masih sangat tercium aura-aura asing tapi aku berfikir biarlah angin ini yang menunjukkan apa yang menjadi ujung pangkal dari perjalanan atau pencarianku disini cukup menikmati hidup dengan berfikir hal-hal baru. Sebelum memasuki kelas dari beberapa tempat kursusan dikampung inggris ini aku juga di peradabkan dalam suasana Camp yang lebih banyak canda dibalik keseriusan dalam mempelajari bahasa asing dan semuanya dibingkai dalam aturan-aturan Camp yang menjadi kiblat Camp untuk bagaimana mempelajari hidup dalam kedisiplinan dan dibalik aturan-aturan itulah yang semakin mempererat kebersamaan teman-teman dalam belajar, yang membuat aku semakin tertarik untuk bertahan di Camp ternyata gambaran diskusi yang sebenarnya ada di Camp ini,meskipun berbeda pendapat itu terselesaikan disaat rapat dan tidak terbahas lagi diluar rapat akan menjadi topeng masing-masing orang di Camp membungkus diri dengan menata hati dan pikiran.

Kerinduan menjadi wajah lain dari duniaku sekarang, rindu untuk bertamasya pikiran, rindu mencicipi banyak ilmu, rindu memetik daun cinta pengetahuan, rindu mempertemukan keaneka ragaman kehidupan dalam bingkai kebersamaan serta kebesaran Jiwa untuk masing-masing legowo mengerti kita berbeda sampai pada titik mengakarkan perbedaan. Itulah nafas bernegara, nafas Nationasle insan Indonesia yang terangkum dalam khidmar Bhinneke Tunggal Ika. Terima kasihku kepada Kampung Inggris beserta segala tawaran keramahannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *