gumul kampung inggris pare kediri

8 Makna Filosofis “PARE” KAMPUNG INGGRIS Kediri

Telah tiga puluh tahun lebih Kampung Inggris berdiri, bukan tanpa sengaja tetapi terjadi secara alamiah. Pak Kalend selaku penggagas utama mengakui hal tersebut, oleh karena dua orang pelajar dari UIN Sunan Ampel Surabaya yang diajarnya hingga terus mengalir berbagai pendatang guna mencicipi prosesi belajar di Pare. Tawaran belajar dikampung Pare menjadikan tempat ini semakin tahun semakin marak dikunjungi. Kampung ini menawarkan tidak hanya bahasa Inggris, tetapi juga mengajarkan bagaimana berlaku layaknya guru idaman bagi mudri-miridnya dan pelajarpun menjadi sosok yang menyenangkan bagi siapa saja.

Perjalanan demi perjalan yang terus mengalir di Kampung Inggris menjadikannya semakin kokoh, saat ini pelajar tidak hanya berasal dari Indonesia, bebagai pelajar riuh berdatanagan. Dari Negeri Tetangga Malaysia dan Thailand antusias dua warga Negara tersebut menjadikan Pare semakin berwarna. Belajar dan mengajar di tempat ini tidak melulu, atau tidak monoton. Tenaga pengampuh tidak berhenti belajar, tetapi terus berbenah diri mempersiapkan materi dengan berbagai metode yang menyenangkan. Setiap guru atau pengampuh sangat ditekankan untuk mengenal karakter masing-masing anak didiknya. Guru dewasa ini kurang lebih tidak memiliki pendekatan terhadap murid-muridnya, ada jarak atau ada ruang kosong yang menjadikan pengampuh dan murid menjadi dua entitas tak terpadu sebagai unsur transformasi ilmu.

Guru merupakan proyeksi mulia untuk Negeri ini. Tidak menjadi simbol begitupula ikon tetapi menjadi nafas gerak Bangsa untuk kian memacu anak-anaknya. Guru menjadi tiang penyangga setelah Negeri berada dititik Nadir. Kampung Inggris memiliki kekhasan dengan menjadikan semua tempat adalah sekolah dan semua orang adalah Guru “Premoedya Ananta Toer”. Pelajar tidak akan menemukan menara Gading, bangunan yang menjulang tinggi, papan tulis yang mengkilat malah justru sebaliknya. Papan tulis yang kotor, tak pernah sepi tulisan, siapa saja menuangkan berbagai “amarah” Inggrisnya dengan bebas, kekagetan setiap pelajar menjadikannya unik untuk dinikmati. Sekolah-sekolah disini berada dibawah pohon, di pinggiran sungai, di warung makan, diteras rumah bahkan disepanjang jalan.

Belajar yang nikmat, tentunya saat tubuh sedang dalam keadaan prima. Sepeda menjadi alat transportasi yang menyenangkan di Kampung Inggris. Hingga bukan sebuah keheranan, Pare ini adalah kampung “Car Free Day”, setiap harinya. Dimana-mana ramai halaman dengan parkiran sepeda. Coba kita bayangkan diatas sepeda pun pelajar berbahasa Inggris. Bukan karena mereka orang Inggris tetapi semua tempat adalah sekolah, sepeda pun menjadi sekolah. Kampung Pare-kediri menjadi Universitas alam yang membuka banyak mata bila pengetahuan bukan sekedar penyiapan materi namun pengetahuan merupakan kesiapan diri, tidak sekedar membuka mata melainkan memantapkan niat terbangun dan membuka segala mekanisme tubuh untuk menerima segala macam pengetahuan.

Hal demikian, menjadikan Pare sebagai “barang” antik, yang sekolahnya memanusiakan manusia. Jika memperhatikan Pare dari segi Kata kita akan menarik berbagai macam obrolan:

1.Pare dalam bahasa Jawa bermakna: Tempat persinggahan
2.Pare dalam bahasa Makassar: Membuat
3.Pare dalam bahasa Inggris: Mengupas
4.Pare dalam sayuran “Paria”: Sayuran pahit, obat.
5.Pare sangat dekat dengan Kata Paris.
6.Pare juga cocok bila digabung “Vespa-re”.
– Pare ” dise’ ” Dalam bahasa Jawa bermakna Pare “dulu”
– Sementara dalam bahasa Sangsekerta, Surga berkosa-kata “Paradesa”, dan memang Pare ini adalah Desa, dengan kekuatan ‘Surga’nya mampu menarik manusia-manusia berbondong-bondong berdatangan, mencari setitik cahaya, tanpa janji tapi tekadkan diri untuk tak lelah memberi.

Bahkan masih banyak lagi, bagi pembaca yang budiman juga bisa melakukan pendekatan bahasa masing-masing tentang makna-makna Pare yang pastinya akan menambah khazanah pengetahuan kita tentang bahasa, daerah dan alam.

Pastinya pembaca akan semakin penasaran dengan keberadaan Pare, bahkan magnetnya mulai terasa. Selamat berniat untuk bertemu dengan Kampung Inggris.

Pada Tahun 2013 jumlah kursusan pernah di data, sekitar 200 lebih jumlah kurususan yang berkiprah di tempat ini. Hingga 2016 jumlahnya semakin meningkat. Pastinya dibutuhkan banyak informasi untuk lebih kreatif memilih dan memilah tempat kita menyandarkan harapan.

Kali ini bahasa Inggris menjadi bahasa dunia yang meski untuk kita pahami. Perjalanan zaman yang terus berlanjut tentunya mengharuskan kita untuk sedikit lebih cekatan untuk menerima tantangan zaman. Mari bersama-sama belajar dengan harapan untuk Bangsa yang kian kokoh.

Sampai Jumpa di Pare….

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *